SARIP TAMBAK OSO’Pendekar Wetan Kali

0
101

Legenda Sarip Tambak Oso terjadi ketika Belanda dengan kompeninya masih menjajah ibu pertiwi. Tidak ada catatan pasti tahun berapa sejarah perlawanan Sarip Tambak Oso terhadap kompeni Belanda, namun diperkirakan kisah ini terjadi pada abad ke 19. Kisah heroik Sarip seolah sunyi dalam lembaran sejarah, mungkin karena tokoh Sarip hanyalah “Kerikil-kerikil kecil” sejarah bangsa Indonesia dalam melawan Belanda.

Cerita ini sering dimainkan dalam kesenian ludruk, orang Surabaya maupun Sidoarjo pasti tahu dan kenal siapa Sarip Tambak Oso. Sarip adalah nama pemuda kampung yang tinggal di Wetan (timur) sungai Sedati, Sidoarjo. Dia dikenal sebagai seorang pendekar yang bertempramen kasar tetapi sangat perhatian pada penderitaan orang-orang miskin yang menjadi korban pemungutan pajak Belanda.

Sarip Tambak Oso memiliki ikatan batin dengan ibunya, seorang janda tua yang miskin. Ketika masih kecil Sarip Tambak Oso memakan “Lemah Abang” (Tanah Merah) bersama ibunya. Lemah Abang tersebut adalah pemberian ayahnya, ”Selama ibunya masih hidup, Sarip tidak akan pernah bisa mati meski dibunuh seribu kali“. Sarip memiliki paman dari jalur ayahnya, dimana dia telah mengambil harta warisan berupa tambak peninggalan ayah Sarip untuk dimanfaatkan sendiri.

Suatu hari datang lurah Gedangan dan kompeni Belanda kerumah Sarip dengan maksud ingin menarik pajak tambak, karena tambak yang dikelola paman Sarip adalah atas nama Ayahnya. Ketika itu Sarip sedang tidak berada dirumah sehingga tidak mengetahui peristiwa tersebut. Lurah Gedangan dibantu kompeni Belanda meminta paksa pajak tanah pada ibunya yang tidak mampu membayar. Ibunya Sarip dihajar, dipukul dan ditendang oleh lurah Gedangan dengan dibantu kompeni Belanda.

Ibunya Sarip yang sudah tua rentah menangis dan merintih memanggil-manggil Sarip yang tidak ada dirumah pada waktu itu ”Sariip reneo cung.. mbokmu diajar londo cung.. Sarriiipp“ (Sariip… kemari nak.. Ibumu disiksa Belanda nak). Sarip yang ketika itu tidak berada dirumah seolah mendengar rintihan ibunya, dengan kesaktiannya ia segera kembali kerumah menemui sang ibu yang sedang dianiaya oleh lurah Gedangan bersama kompeni Belanda. Segera dicabutnya pisau yang selalu terselip dipinggang, lalu dibunuhnya lurah Gedangan beserta sebagian kompeni Belanda, dan sisanya melarikan diri.

Sejak saat itu Sarip Tambak Oso menjadi buronan kompeni Belanda. Suatu hari Sarip mendatangi pamannya yang telah mengambil hak tanah tambak peninggalan orang tuanya, tetapi tidak diberikan oleh pamannya sehingga terjadi perkelahian antara Sarip dengan sang paman. Karena merasa terdesak dan kalah, pamannya melarikan diri menuju kulon kali Sedati, menemui salah satu pendekar yang bernama Paidi. Paidi adalah pendekar kulon (Barat) kali Sedati yang mempunyai senjata andalan berupa Jagang, karena ia berprofesi sebagai kusir delman.

Paidi menyukai salah satu putri pamannya Sarip yang bernama Saropah, sehingga ia mau membantu pamannya Sarip. Paidi akhirnya pergi mendatangi Sarip dengan maksud untuk menuntut balas perlakuan Sarip pada pamannya. Sarip dan Paidi akhirnya bertemu ditepi sungai Sedati, mereka berkelahi dengan mengadu ilmu kesaktiannya. Sarip kalah dan terbunuh, jasadnya dibuang oleh Paidi di sungai Sedati.

Ketika itu ibunya Sarip sedang mencuci pakaian di sungai Sedati, melihat air sungai berwarna merah darah maka ia cari sumbernya dan betapa terkejutnya, karena ternyata sumber warna merah sungai Sedati berasal dari darah anaknya, seketika itu juga ibunya menjerit ”Sariiip.. tangio cung.. durung wayahe awakmu mati..” (Sariip bangun nak.. belum waktunya kamu meninggal) dan seketika Sarip bangkit dari kematiannya seperti orang bangun dari tidur. Oleh ibunya, untuk sementara waktu Sarip diperintahkan menyingkir dari kampung dan bersembunyi ditempat lain.

Sarip pun kembali mencari Paidi dan bertarung, dimana kali ini Paidi yang kalah dan terbunuh oleh Sarip. Sebagai buronan Belanda, Sarip sering merampok rumah para tuan tanah dan orang-orang kaya yang menjadi antek Belanda, dimana hasil rampokannya selalu ia bagikan pada rakyat miskin di daerahnya. Belanda merasa kewalahan dengan sepak terjang Sarip yang semakin berani melawan pemerintah Belanda.

Belanda pun menyewa pendekar-pendekar pilihan untuk melawan Sarip, tapi tidak ada yang sanggup mengalahkannya karena setiap Sarip mati pasti akan hidup kembali dan berulang-ulang terjadi. Belanda pun mencari tahu apa gerangan yang menjadi rahasia kehebatan Sarip, sehingga bisa hidup berulang kali setiap dia dibunuh.

Akhirnya Belanda dapat mengetahui rahasia dan kelemahan Sarip dari pamannya yang merupakan saudara seperguruan silat ayah Sarip, bahwa letak kesaktian Sarip ada pada ibunya. Belanda akhirnya menangkap sang ibu kemudian menembaknya. Sarip pun terdesak dan akhirnya dapat ditangkap. Oleh Belanda Sarip dijatuhi hukuman mati dengan cara dipancung dan dimasukkan kedalam sumur, lalu ditutupi batu dan tanah ditempat terpisah. Begitulah kisah perjalanan hidup Sarip Tambak Oso seorang pendekar muda yang gugur melawan Belanda.(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here