Dia sudah dewasa hanya Wadahnya Yang Masih Belum Mampu

0
172

( lensanaga.com)Saat dia menggenggam tanganku, dia menatapku, aku merasa dia begitu sangat dekat denganku seakan akan kami sudah saling mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama. Aku merasakan sesuatu yang hilang dalam kehidupannya, dan dia sangat menginginkan yang hilang itu untuk bisa segera kembali pulang, aku mendengar samar samar sebuah ungkapan dalam hatinya.

” Bantu kami untuk melewati ini semua, aku percaya kamu orang yang baik dan aku percaya kamu akan membawa kami ke arah yang lebih baik, walaupun kami tak mungkin kamu miliki ”

Mendengar ungkapan itu Tanpa sadar aku membisikinya. .aku sayang kalian dan terimakasih kamu sudah percaya dengan ku ”

Bagaimanapun juga dia adalah yang terbaik yang harus aku sayangi dengan tulus dan sepenuh hati. Karena hanya dengan kasih sayang dan sentuhan yang lembut aku mulai bisa memasuki relung relung hati dan jiwanya.

dia tahu soal itu semua, aku bisa merasakannya. awalnya dia berusaha untuk menolak supaya aku tidak bisa memasukinya, tapi dengan rasa kasih sayang dengan kelembutan aku bisa masuk menelusuri lalu berbicara dalam naluri kami.

Sejak saat itu setiap hari aku selalu memikirkanya dan selalu kucoba untuk mencari cara. bagaimana caranya aku bisa mengetahui potensi dalam dirinya, sehingga potensi itu nantinya bisa untuk menunjang masa depannya. Dan tentu kelak dia harus bisa lepas dari ketergantungan orang lain. Tentu ini butuh kesabaran, aku harus mencoba segala hal, supaya dia bisa memilih apa yang sesuai dengan potensi yang ada dalam dirinya. Aku harus berusaha keras untuk ini karena potensi itu adalah jalan satu satunya untuk menemukan masa depannya. Dan ini adalah jalan yang panjang tapi itu adalah bagian dari tanggung jawabku yang harus tetap aku jalani.

Jika aku menatapnya aku selalu berkata kepadanya.

” kamu laki laki Nak, suatu hari kamu akan sendiri. kamu harus tangguh setangguh karang, yang tak pernah tumbang walau setiap hari diterjang gelombang. kamu kuat sekuat seorang bima itulah kamu ”

Dikala kami bisa bertemu Tatapannya, exspresi wajahnya selalu menyiratkan bahwa dia sedang menelisikku memasuki relung relung hati dan jiwaku. Aku membiarkan itu, aku membiarkan dia memasukinya setiap saat. Aku bebaskan itu semua dia begitu bahagia, saat dia bermain main disana bernyanyi, berlari lari dan bersendau gurau dengan sanubariku. Dia menginginkannya tapi dia tak mampu untuk memiliki, aku pun juga tak mampu untuk memberikan mungkin suatu saat dia akan memilikinya jikalau waktu mengijinkan, dan aku akan membiarkan dia memilikinya, karena itu mungkin memang miliknya aku hanya perantara yang memang dipertemukan oleh yang maha kuasa untuk memberikan itu semua kepadanya.

Tapi entahlah akhir akhir ini aku sudah tak pernah bertemu dengannya, dan saat ini aku hanya bisa merasakannya dari kejauhan dan kami sering bertemu dia sangat sedih karena tidak ada tempat untuk bermain lagi, Tidak ada orang yang mampu memahami akan dia, Tidak ada lagi jiwa yang bisa diajaknya untuk bernyanyi dan bermain. Dan itu membuat nafasku menjadi sesak. Tapi aku tak bisa berbuat banyak biarkan hanya kami berdua yang paham tentang ini. Orang lain tak akan bisa memahami apa yang sudah kami jalin dalam jiwa kami, karena ini adalah dunia kami.

Dia sudah dewasa hanya wadahnya yang masih belum mampu menampungnya suatu hari dia akan berkembang dan wadahnya akan menyesuaikan jiwanya.(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here