SPIRIT RAMADHAN 1440 H (Bag. 30) “Muhasabah Cinta”

0
95

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Tanpa terasa kita hampir sampai di penghujung bulan ramadhan dan alhamdulillah hingga hari ini kita masih diberikan kelancaran dan kemudahan dalam menjalankan ibadah shoum dan terasa lebih nikmat dalam menjalankannya karena dilandasi dengan hati yang bersih dan ikhlas.

Hampir sebulan penuh kita berada dalam masa penggodogan iman, sebagai evaluasi diri apakah dalam bulan puasa ini telah mampu menjalankan ibadah dengan khusyuk, apakah telah mampu mengendalikan seluruh organ tubuh dari hal-hal yang dapat membatalkan dan merusak pahala puasa, apakah telah mampu melakukan kebaikan dan kebaikan seperti menjaga hati untuk selalu mengingat Allah, membasahi lisan dengan senantiasa berdzikir dan tilawah Qur’an, menjaga tangan dan kaki untuk tidak berbuat maksiat…
Sehingga mampu menggapai hakekat puasa yaitu menjadi manusia bertaqwa.

Bulan Ramadhan akan segera berakhir, alangkah rindunya hati akan keberkahan bulan yang begitu istimewa.

Bulan ketika pintu surga dibuka , pintu neraka ditutup ,
ketika syetan dibelenggu ..
ketika amalan DILIPAT GANDAKAN ..
serta bulan yang penuh RAHMAT dan AMPUNAN ALLAH..
Bukan hanya manusia yang menangis, tetapi juga langit dan bumi , serta malaikat pun ikut MENANGIS …

Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda, “Di malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga keistimewaannya. Ini merupakan musibah bagi umatku.”

Kemudian ada seorang sahabat bertanya, “Apakah musibah itu, ya Rasulullah?”

“Dalam bulan itu segala doa mustajab, sedekah makbul, segala kebajikan digandakan pahalanya, dan siksaan kubur terkecuali, maka apakah musibah yang terlebih besar apabila semuanya itu sudah berlalu?”
Ketika mereka memasuki detik-detik akhir penghujung Ramadhan, air mata mereka menetes. Hati mereka sedih.

Kita kini telah berada di penghujung Ramadhan, yang artinya tinggal 1 hari lagi bulan suci ini akan pergi.
Kalau kita perhatikan masyarakat di sekeliling kita, sebagian mereka bahkan mulai disibukkan dengan hiruk pikuk Idul Fitri.

Luapan kegembiraan sudah terasa. Mall-mall menjadi padat. Lalu lintas lambat merayap. Banyak rumah berganti cat. Baju baru dan makanan enak juga telah siap.
Jika demikian gempitanya masyarakat kita berbahagia di penghujung akhir Ramadhan, tidak demikian dengan para sahabat dan salafus shalih. Semakin dekat dengan akhir Ramadhan, kesedihan justru menggelayuti generasi terbaik itu.

Tentu saja kalau tiba hari raya Idul Fitri mereka juga bergembira karena Id adalah hari kegembiraan. Namun di akhir Ramadhan seperti ini, ada nuansa kesedihan yang sepertinya tidak kita miliki di masa modern ini.

Mengapa para sahabat dan orang-orang shalih bersedih ketika Ramadhan hampir berakhir? Kita bisa menangkap alasan kesedihan itu dalam berbagai konteks sebab.

Pertama, patutlah orang-orang beriman bersedih ketika menyadari Ramadhan akan pergi, sebab dengan perginya bulan suci itu, pergi pula berbagai keutamaannya.

Bukankah Ramadhan bulan yang paling berkah, yang pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup? Bukankah hanya di bulan suci ini syetan dibelenggu? Maka kemudian ibadah terasa ringan dan kaum muslimin berada dalam puncak kebaikan,

Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, diwajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta para syetan dibelenggu… (HR. Ahmad)

Bukankah hanya di bulan Ramadhan amal sunnah diganjar pahala amal wajib, dan seluruh pahala kebajikan dilipatgandakan hingga tiada batasan?

Semua keutamaan itu takkan bisa ditemui lagi ketika Ramadhan pergi. Ia hanya akan datang pada bulan Ramadhan setahun lagi.
Padahal tiada yang dapat memastikan apakah seseorang masih hidup dan sehat pada Ramadhan yang akan datang.
Maka pantaslah jika para sahabat dan orang-orang shalih bersedih, bahkan menangis mendapati Ramadhan akan pergi.

Para sahabat dan orang-orang shalih bukan hanya berdoa di akhir Ramadhan. Bahkan, konon, rasa khauf membuat mereka berdoa selama enam bulan berturut-turut setelah Ramdhan, agar amal-amal di bulan Ramadhan mereka diterima Allah . Lalu enam bulan setelahnya mereka berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya.

Perbedaan tashawur (paradigma, persepsi) dalam memandang akhir Ramadhan itulah yang kemudian membawa perbedaan sikap antara generasi sahabat dan generasi kita saat ini.

Jika sebagian masyarakat, seperti dikemukakan di atas, asyik berbelanja menyambut Idul Fitri, para sahabat asyik beri’tikaf di sepuluh hari terakhir.
Maka bisa kita bayangkan bahwa Madinah di era Rasulullah di sepuluh hari terakhir Ramadhan layaknya seperti kota setengah mati. Sebab para lelaki beri’tikaf di masjid-masjid. Bahkan begitu pula sebagian para wanitanya.

Jika kita sibuk menyiapkan kue lebaran, para sahabat dan salafus shalih sibuk memenuhi makanan ruhaninya dengan mengencangkan ikat pinggang, bersungguh-sungguh beribadah sepanjang siang, terlebih lagi di waktu malam.

Jika kita mengalokasikan banyak uang dan waktu untuk membeli pakaian baru, para sahabat dan salafus shalih menghabiskan waktu mereka dengan pakaian taqwa.
Dengan pakaian taqwa itu mereka menghadap Allah di masjid-Nya, bertaqarrub (mendekatkan diri) dalam khusyu’nya shalat, tilawah, dzikir, dan munajat.

Masih ada waktu bagi kita sebelum Ramadhan pergi. Masih ada kesempatan bagi kita untuk mengubah tashawur tentang akhir Ramadhan. Maka beberapa hari ke depan bisa kita perbaiki sikap kita.

Pertama, kita lihat lagi target Ramadhan yang telah kita tetapkan sebelumnya. Mungkin target tilawah kita. Masih ada waktu untuk mengejar, jika seandainya kita masih jauh dari target itu. Demikian pula kita evaluasi ibadah lainnya selama 29 hari ini. Lalu kita perbaiki.

Kedua, kita lebih bersungguh-sungguh memanfaatkan Ramadhan yang tersisa sedikit ini. Mungkin kita tak bisa beri’tikaf penuh waktu seperti para sahabat dan salafus shalih itu. Namun jangan sampai kita kehilangan malam-malam terakhir Ramadhan tanpa qiyamullail, tanpa beri’tikaf –lama atau sebentar- di masjid-Nya.

Kita mungkin tidak bisa bersedih dan menangis sehebat para sahabat, namun selayaknya kita pun takut sebab tak ada jaminan apakah amal kita selama 1 bulan ini diterima, begitu pula tak ada jaminan apakah kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun berikutnya.

Lalu kita pun kemudian memperbaiki dan meningkatkan amal ibadah serta berdoa lebih sungguh-sungguh kepada Allah Azza wa Jalla.

Ya Rabb.. Wahai Dzat yang Maha Menyayangi ..

Wahai Dzat yang Maha Pengampun dan Pengasih ..,
Sesungguhnya Engkau mencintai ampunan, maka ampunilah Kami Yaa Kariim ..

Yaa Allah, Sesungguhnya kami memohon ridha-Mu , Cinta Mu dan surga Mu ..
Teguhkanlah keimanan kami .. Istiqomahkan kami ..
setiap masa dalam penjagaan MU ..

Wahai Rabb Pemilik segala Karunia ..
Maha Tinggi Engkau .. dan ditangan Mu lah Kebesaran dan Kemuliaan ..
Aamiin yaa Robbal alamin …

Semoga amal ibadah kita selama bulan ramadhan ini diterima oleh Allah SWT dan kita mendapatkan hikmah serta fadhilah bulan ramadhan yang terlihat dari perubahan diri setelah ramadhan berlalu dan mencapai cita-cita ramadhan yaitu menjadi orang yang bertaqwa, amin.

SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1440 H
Minal Aidzin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir & Batin.

#kaP
Penggagas / Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusanatara).red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here