Umat Yang “BERISIK” Adalah Umat Yang Tidak Mengenal Sejarah

0
161

lensanaga.com- Ajaran Islam tidak membawa secara langsung tradisi budaya fisik atau Islam tidak mengajarkan secara konkrit tata bentuk arsitektur. Islam memberi kesempatan kepada umatnya untuk menentukan pilihan-pilihan fisiknya pada akal-budi.

Seperti halnya menara dan mihrab, secara historis kubah belum dikenal pada masa Rasulullah SAW. Arsitektur terkemuka, Prof K Cresswell dalam Early Muslim Architecture menyatakan bahwa pada desain awal masjid Madinah sama sekali belum mengenal kubah. Dalam rekonstruksi arsitekturnya, Cresswell menunjukkan betapa sederhananya masjid yang dibangun Nabi Muhammad SAW.

Arsitektur awal masjid Rasul berbentuk segi empat dengan dinding sebagai pembatas sekelilingnya. Di sepanjang bagian dalam dinding tersebut dibuat semacam serambi yang langsung berhubungan dengan lapangan terbuka yang berada di tengahnya. Seiring berkembangnya teknologi arsitektur, maka kubah pun muncul sebagai penutup bangunan masjid.

Kubah secara etimologi ditemukan dari kata cupola (yunani) yg artinya rumah tuhan/dewa. Bangunan kubah sudah ada sejak bangsa yunani berjaya sebelum ditaklukan bangsa romawi. bangsa romawi mengadopsi kubah pada bangunan kuil2nya. yang akhirnya digunakan juga pada istana kaisar. ketika bangsa romawi menguasai dunia, banyak membangun istana atau kuil dengan kubah ditanah jajahan, hingga ke palestina. kubah diadopsi oleh penganut yahudi dan kristen dalam membangun tempat ibadah. ketika khalifah umar menguasai pelestina, beliau membangun al aqsa dengan kubah dan al sakhra dengan kubah emas agar umat islam tidak terpesona oleh bangunan non islam (kuil, sinagog, gereja) yang megah dengan kubah. sejak itu kubah diadopsi dalam bagunan masjid.

Lalu sejak kapan Islam mulai menggunakan kubah pada arsitektur masjid? Secara historis dan arkeologis, kubah pertama dalam arsitektur Islam ditemukan di Kubah Batu (Dome of Rock) atau yang biasa dikenal sebagai Masjid Umar di Yerusalem. Kubah Batu dibangun sekitar tahun 685 M sampai 691 M.

Interior Kubah Batu dihiasi dengan arabesk – hiasan berbentuk geometris, tanaman rambatan dan ornamen kaligrafi. Unsur hiasan sempat menjadi ciri khas arsitektur Islam sejak abad ke-7 M. Hingga kini, kaligrafi masih menjadi ornamen yang menghiasi interior bangunan sebuah masjid.

Sejak saat itulah, para arsitek Islam terus mengembangkan beragam gaya kubah pada masjid yang dibangunnya. Pada abad ke-12 M, di Kairo kubah menjadi semacam lambang arsitektur nasional Mesir dalam struktur masyarakat Islam. Dari masa ke masa bentuk kubah pada masjid juga terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.

Ketika Islam menyebar dan berinteraksi dengan budaya dan peradaban lain, para arsitek Islam tampaknya tidak segan-segan untuk mengambil pilihan-pilihan bentuk yang sudah ada, termasuk teknik dan cara membangun yang memang sudah dimiliki oleh masyarakat setempat tersebut.

Tak heran, jika bentuk kubah masjid pun terbilang beragam, sesuai dengan budaya dan tempat masyarakat Muslim tinggal. Hampir di setiap negara berpenduduk Muslim memiliki masjid berkubah. Di antara masjid berkubah yang terkenal antara lain; Masjid Biru di Istanbul Turki, Taj Mahal di Agra India, Kubah Batu di Yerusalem, dan lainnya.

Di Indonesia sendiri model masjid berkubah masih terbilang baru muncul sekitar pertengahan abad 19. Jaug sebelum itu, bentuk atap masjid hanya minimalis berundak-undak. Atau mengikuti bentuk arsitektur setempat.

Inti tulisan ini adalah jangan berisik… Berbicara arsitektur masjid adalah bicara mengenai sejarah, kreatifitas dan seni dalam membangun masjid, so…. jangan ngomong klo cuma bermodalkan cocokologi dan tafsir “khayal” mengenai sesuatu.

Ttd
Kipli Tukang Ojek Pengkolan
Pacarnya Mpok Mumun.

Keterangan gambar :
(1) Masjid White Rose di Albania
(2) Masjid Jami’ Nurbuat Kelurahan Kedung Menjangan, kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here