Soekarno Dimakamkan”ANEH” Truk TNI AD Mogok Serentak Hingga Disambut Lautan Manusia

0
93

Lensanaga.com-Sejarah

Soekarno meninggal dunia pada 21 Juni 1970, dan ada beberapa hal aneh yang terjadi saat jenazahnya akan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur
Mantan KSAU sekaligus teman dekat Soekarno, Suryadarma menjadi saksi kejadian aneh tersebut
Hal ini berawal saat Suryadarma bersama keluarga pergi ke Bandara Halim Perdanakusuma dan ikut mengiringi pemakaman Soekarno di Blitar
Suryadarma yang sudah kena ‘black list’ oleh Pemerintah Orde Baru, berusaha menyelinap ke dalam kokpit salah satu pesawat C-130 yang akan mengantarkan jenazah Soekarno dan berhasil.
Suryadarma memang tidak diundang oleh pemerintah untuk ikut dalam rombongan pengantar jenazah, yang terdiri dari para pejabat Orde Baru dan keluarga terdekat Bung Karno.
Pesawat yang ditumpangi Suryadarma saat itu diterbangkan oleh Mayor Udara O.H. Wello hingga tiba di Malang, Jawa Timur
Lalu perjalanan dilanjutkan dengan menumpang kendaraan yang disediakan oleh AURI untuk mengantar rombongan pengantar jenazah Soekarno ke Blitar.
Di sepanjang perjalanan dari Malang hingga ke Blitar, begitu banyak rakyat yang berbondong-bondong menyambut rombongan pengantar jenazah Soekarno.
Kejadian aneh terjadi di dalam perjalanan menuju Blitar, yaitu truk-truk pasukan TNI AD yang mengawal para pejabat Orde Baru mendadak mogok secara serentak di tengah perjalanan.
Akibatnya, rombongan harus melakukan perjalanan sampai Blitar tanpa pengawalan tentara satu pun
Setibanya di tempat pemakaman Bung Karno, terlihat lautan manusia yang sudah menantikan jenazah Bung Karno.
Bertemu dengan jutaan massa pengagum Bung Karno yang berkabung sempat membuat nyali beberapa pejabat Orde Baru ciut karena tidak ada pasukan pengawal yang menjaga mereka.
Ketika jenazah Bung Karno dimasukkan ke dalam liang lahat, tiba-tiba suasana menjadi sunyi senyap.
Lautan manusia yang begitu padatnya memenuhi lokasi, semuanya terdiam dan hening.
Dalam keheningan, yang terdengar hanyalah isak tangis dari pihak keluarga Bung Karno.
Rakyat dan para pelayat lainnya semua terdiam saat melepas kepergian Sang Proklamator

Presiden Soekarno di akhir kepemimpinannya

Inilah sebuah kisah tragis mantan Presiden Soekarno di masa akhir kepemimpinannya yang dicuplik dari buku berjudul Maulwi Saelan, Penjaga Terakhir Soekarno.
Pada suatu pagi di Istana Merdeka, Soekarno minta sarapan roti bakar seperti biasanya.
Langsung dijawab oleh pelayan, “Tidak ada roti.”
Soekarno menyahut, “Kalau tidak ada roti, saya minta pisang.”
Dijawab, “Itu pun tidak ada.”
Karena lapar, Soekarno meminta, “Nasi dengan kecap saja saya mau.”
Lagi-lagi pelayan menjawab, “Nasinya tidak ada.”
Akhirnya, Soekarno berangkat ke Bogor untuk mendapatkan sarapan di sana
Maulwi Saelan, mantan ajudan dan Kepala Protokol Pengamanan Presiden juga menceritakan penjelasan Soekarno bahwa dia tidak ingin melawan kesewenang-wenangan terhadap dirinya.
“Biarlah aku yang hancur asal bangsaku tetap bersatu,” kata Bung Karno.
Di saat lain, setelah menjemput dan mengantar Mayjen Soeharto berbicara empat mata dengan Presiden Soekarno di Istana.
Maulwi mendengar kalimat atasannya itu, “Saelan, biarlah nanti sejarah yang mencatat, Soekarno apa Soeharto yang benar.”
Maulwi Saelan tidak pernah paham maksud sebenarnya kalimat itu.
Ketika kekuasaan beralih, Maulwi Saelan ditangkap dan berkeliling dari penjara ke penjara.
Dari Rumah Tahanan Militer Budi Utomo ke Penjara Salemba, pindah ke Lembaga Pemasyarakatan Nirbaya dk Jakarta Timur.
Sampai suatu siang di tahun 1972, alias lima tahun setelah ditangkap, dia diperintah untuk keluar dari sel.
Ternyata itu hari pembebasannya.
Tanpa pengadilan, tanpa sidang, namun dia harus mencari surat keterangan dari Polisi Militer agar tidak dicap PKI.
“Sudah, begitu saja,” kenangnya.

Detik-detik Soekarno Sebelum Meninggal

Detik-detik Soekarno sebelum meninggal dunia memang cukup mengharukan khususnya bagi anak-anak Bung Karno
detik-detik terakhir sang ayah adalah Guntur, Megawati, Sukmawati, Guruh dan Rachmawati.
Hal ini berawal saat Soekarno sudah dalam kondisi sekarat pada tanggal 16 Juni 1970.
Soekarno ditempatkan dalam sebuah kamar berpenjagaan ketat di lorong rumah sakit.
Kondisi Soekarno kala itu terus memburuk.
Pada 20 Juni 1970, kesadaran Soekarno sempat menurun hingga akhirnya mengalami koma.
Dokter yang menangani Soekarno, Mahar Mardjono tampaknya sudah mengerti apa yang sedang terjadi.
Mahar kemudian menghubungi anak-anak Soekarno.
Mereka pun berkumpul di RSPAD Gatot Soebroto tempat Soekarno dirawat pada 21 Juni 1970 pukul 06.30 WIB.
Anak-anak Soekarno pun mengajukan sejumlah pertanyaan ke dokter Mahar, tapi sang dokter tak menjawab.
Dokter Mahar hanya menggelengkan kepala.
Beberapa saat kemudian, suster mencabut selang makanan, dan alat bantu pernapasan.
Anak-anak Soekarno kemudian mengucapkan takbir.
Megawati membisikkan kalimat syahadat ke telinga Soekarno.
Soekarno berusaha mengikutinya tapi hanya mampu mengucapkan “Allah”.
“Allaaah…,” ucap Soekarno lirih seiring napasnya yang terakhir.
Soekarno meninggal pada pukul 07.07 WIB.

#sejarahindonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here