GANYANG “Kerancuan Berpikir

0
223

Lensanaga.com-Padang 9/9/2019
“Kemampuan manusia menyusun kata-kata untuk menjelaskan segala sesuatunya adalah benar, namun perihal yang dijelaskan benar atau tidak hanyalah kemungkinan, sebab ia berfikir untuk mengungkapkannya pada manusia lainnya yang juga mampu berpikir. Pada satu sisi mungkin penjelasannya adalah benar, dan dilain sisi hanyalah pembenaran belaka.”

Judul tulisan ini memang terkesan provokatif untuk dibaca oleh publik, tapi yang jelas tulisan ini hanya sebagai bahan diskursus agar kita berramai-ramai melawan dan membumi hanguskan kerancuan berpikir yang berakibat fatal dalam kehidupan bersama. Dan saya rasa itu bukanlah hal berlebihan untuk diupayakan secara bersama.

Mari kita mulai menanggapi beberapa fenomena yang menggelitik dunia pemikiran dalam kehidupan suatu bangsa. Dimana secara lantang setiap hari senin kita selalu menggemakan maupun diperdengarkan tentang prinsip-prinsip kehidupan melalui Pancasila yang dibentuk agar bangsa beradab, bermoral dan menjunjung tinggi asas kebersamaan (toleransi).

Untuk hal ini penulis tertarik menanggapi pemikiran dari dua tokoh Indonesia yang: menyimpulkan bahwa kitab suci merupakan fiksi (Rocky Gerung) dan disertasi keapsahan seks pra-nikah (Abdul Aziz). Dimana secara garis besar ketiga kondisi tersebut memiliki konsekuensi kerancuan adab, kehilangan moral, dan patologi sosial masyarakat kebangsaan.

Sebelum itu, harus kita ketahui bahwa esensi manusia sebagai satu-satunya spesies yang memiliki kemampuan melampaui makhluk lainnya sehingga memperoleh predikat bahwa manusia merupakan ‘makhluk sempurna’, yaitu makhluk yang dilengkapi dengan akal budi dan hati nurani. Kedua hal tersebut menjadi pembeda manusia dengan makhluk lainnya, yang fungsi dari keduanya adalah penyampai kebenaran dan penyebar kebaikan yang merupakan tugas manusia sebagai ‘rahmatan lil ‘alamin’ sekaligus pemimpin yang mewakili Tuhan dalam kehidupan konteks dunia (manifestasi Ilahi).

Itulah fitrah manusia!
Lebih dari itu, akal budi dan hati nurani memang disertai dengan nafsu pada setiap aktivitasnya. Sehingga kecenderungan untuk berbuat sesuai jalur kebenaran dan kebaikan bisa didominasi tindakan buruk dan kesalahan. Namun bagaimanapun akal budi dan hati nurani berfungsi sebagai pengurai salah, buruk dan jeleknya sebuah tindakan, ucapan, pemikiran, perkataan dan perasaan sesuai dengan tugas kita bersama ‘amar ma’ruf nahi munkar’ atau menyampaikan kebenaran dan mencegah keburukan.

Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa perihal kontroversialnya pemikiran dua tokoh diatas merupakan manifestasi dari konstruksi peradaban yang cenderung berkiblat pada barat agar bersifat sekuler. Pemikiran manusia yang berimplikasi pada tindakan dan perkataan yang sudah mengikuti pola tatanan liberal dan radikal layaknya di Negara liberal.

Mengganyang Rancunya Berpikir

Perlu kita sadari bahwa dua pemikiran diatas memiliki irisan yang bermuara pada ‘Agama dan makna’ yang implikasinya adalah kecekcokan yang mengundang kita semua untuk menelaah dan mengujinya lebih dalam.
Pertama, sebuah kesimpulan/konklusi menyoal kitab suci sebagai fiksi yang disampaikan oleh Rocky Gerung di program TV ONE ‘ILC’ menuai kontroversial di kalangan publik pada tahun 2018, namun tidak ada yang berani bersuara untuk memurnikan pemikiran tersebut sebagai akibat bertepatan dengan tahun politik. Walaupun ada yang bersuara

, tapi hanya sebuah persoalan kepentingan politik.
Bagi penulis, pemikiran tersebut adalah kerancuan besar yang sedang membunuh kehendak Pencipta dalam dirinya. Oke, dengan kesimpulan RG yang berani menarik silogisme general ‘kitab suci merupakan fiksi’ melalui hukum implikasi ‘jika fiksi mengaktifkan imajinasi, maka kitab suci bisa mengaktifkan imajinasi’ berarti ‘kitab suci adalah fiksi’.

Selanjutnya RG juga meminta publik untuk membedakan makna fakta, realita, fiktif dan fiksi. Namun ia tidak sadar bahwa makna keempat kata itu memiliki daya dorong kuat untuk manusia berimajinasi. Lalu letak kesalahannya adalah penggunaan kata didalam logikanya, dimana ia berada di Bumi Nusantara dengan komunikasi nasional adalah Bahasa Indonesia.

Letak-letak penggunaan kata itu sudah memiliki tempatnya masing-masing untuk mempermudah komunikasi dan kolaborasi, dimana fiksi merupakan sebuah kesemuan/khayalan semata yang diperkuat dengan makna fiktif sebagai kandungan sifat fiksi itu sendiri.

Selanjutnya, penulis sebagai salah satu manusia beragama Islam ingin membantah pemikiran demikian melalui kandungan kitab suci ‘Al-Qur’an’. Dimana semua kandungan dalam kitab suci yang penulis yakini yang masih menjadi khayalan di benak umat muslim hanyalah menyoal ‘surga dan neraka’. Sebab kedua hal itu diluar batas kemampuan manusia untuk menalar sebagaimana manusia hanya berada di bumi kecil yang satu diantara beberapa planet, dan planet yang terletak di galaksi bimasakti yang hanya salah satu dari berbagai galaksi, tentu sangat terbataslah manusia untuk menalarnya. Artinya, diluar dari kedua hal tersebut, isi kandungan kitab suci yang penulis yakini adalah benar-benar sudah dirasakan kebenaran dan faktanya.

Lantas, bagaimana mungkin seorang RG menyatakan kitab suci fiksi ‘jika 99% dari isi kitab suci yang penulis yakini sudah terjadi dalam kehidupan bersama’. Tentu disinilah letak kerancuan berpikir yang harus beliau rubah, untuk memperkuatnya penulis kutip potongan salah satu ayat suci Al-Qur’an, yaitu “Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati” (Q.S. Ali-Imran: 185). Lihatlah manusia paling cerdas, paling radikal berpikir, paling sekuler, dan yang menuhankan teknologi tidak bisa menolak fakta tersebut terjadi.

Kedua, begitu juga dengan disertasi Abdul Aziz yang akhir-akhir ini menjadi topik perbincangan setiap kalangan, yaitu ‘keapsahan seks pra-nikah’ yang menitik beratkan pada HAM dan tindakan hukum krimanilisasi. Meskipun alasan AA untuk meloloskan disertasinya adalah persoalan mendasar kebutuhan seks bagian dari HAM, tapi yang jelas itu hanya sebuah pembenaran semata. Sebab, berapa banyak manusia di Palestina, Uyghur dan daerah lainnya tidak mempunyai HAM oleh para Negara peng-atasnama-kan HAM. Terlebih beliau yang berkecimpung di dunia PTAIN sudah seharusnya lebih tahu sebab-sebab dilarangnya berzina, bahkan mendekati zina sekalipun sangat dilarang sebagai perawalan tindakan munkar.

Akan banyak sekali efek buruk yang diperoleh dari lolosnya disertasi tersebut yang merupakan pintu segala kemunkaran. Para pejuang LGBT akan memperjuangkan nasibnya melalui HAM dan Kriminalisasi, akan banyak pelaku seks bebas atas nama suka sama suka, dan tentunya pemyakit HIV-AIDS akan menjadi patologi besar bangsa yang harus dicegah. Serta, AA terlalu gegabah memperjuangkan disertasinya atas nama ‘HAM dan Kriminalisasi’. Sebab sadar atau tidaknya beliau bahwa dirinya sudah melawan perhukuman di Indonesia, seperti halnya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana pasal 281-284, UU No. 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi, UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dan asas KUHP yang bisa mereduksi HAM jika itu menuai kemunkaran dalam kehidupan sosial kebangsaan. Dimana peraturan/kebijakan itu diadakan untuk menjaga tindakan seks pra nikah dan membentuk Negara yang berdaulat, bermartabat, bermoral dan beradab.
Untuk itu, kerancuan berpikir yang dialami oleh RG dan AA secara langsung telah mengajak publik untuk ikut rancu dalam berpikir. Tentu kondisi ini harus diganyang, sebab mereka juga berkecimpung di dunia pendidikan yang seharusnya mentransformasikan nilai benar, baik dan indah dalam bersikap, berpikir, berkata dan bertindak dan bukan sebaliknya.
Dan sekali lagi penulis tekankan, bahwa kondisi ini merupakan hasil dari sekulerisasi barat merancukan pemikiran manusia global termasuk Indonesia, sehingga manusia tidak lagi berbeda dengan binatang, tidak memiliki akal budi, hati nurani dan agama untuk membedakan benar dan baik atau tidaknya aktivitasnya (huh, membuka pintu untuk masuk zaman jahiliah). Akhir kata, penulis mengutip pernyataan Albert Einstein sebagai bahan renungan bersama, “Ilmu tanpa Agama buta, Agama tanpa Ilmu lumpuh.”(red)

Oleh:Al Mukhollis Siagian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here