Lensa Sejarah: Fenomena Para Wali Mengetahui Hati

0
4504

LENSANAGA.ID, LENSA SEJARAH-Di tahun 1980-an, di daerah Magelang ada seorang kyai yang amat terkenal. Namanya Kyai Hasan Asy’ari. Tapi orang menyebutnya Mbah Mangli karena sang kyai tinggal di desa Mangli, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.

Pengajiannya dihadiri ribuan orang dari mana-mana dan Mbah Mangli selalu menyediakan konsumsi gratis untuk orang yang datang ke pengajiannya. Bahkan jika jamaah pengajian itu kehabisan uang, tanpa diminta Mbah Mangli akan memberi sangu.

Almarhum KH Saifuddin Zuhri (Menteri agama era Bung Karno), ayah Menag Lukman Hakim Saifuddin, suatu ketika, pernah bertemu dengan Mbah Mangli di bandara Ahmad Yani, Semarang. Tanpa diduga, Mbah Mangli memberi uang cukup besar. Uang tersebut, kata KH Saifuddin, saat itu cukup untuk tiket pesawat Garuda bolak balik Jakarta Semarang.

Sampai di rumah, KH Saifuddin bercerita kepada istrinya bahwa dia disangoni Mbah Mangli di Semarang. Beliau sempat berkata kepada istrinya, Mbah Mangli punya banyak uang dari mana ya? Kerjanya apa?

Seminggu kemudian Mbah Mangli mampir ke rumah KH Saifuddin Zuhri di Jakarta. Mbah Mangli langsung membuka kantong yang berisi berlian.

“Ini harganya sekian juta. Yang ini sekian juta. Ini bisnis saya, jualan berlian,” jelas Mbah Mangli seperti menjawab pertanyaan KH Saifuddin Zuhri.

“Jadi kalau saya memberi sangu segitu, kecil,” kata Mbah Mangli kepada KH Saifuddin Zuhri. Merasa “ngrasaninya” ketahuan, KH Saifuddin pun langsung minta maaf kepada Mbah Mangli.

“Maaf Mbah, saya kemarin ngrasani Mbah soal uang itu,” kata KH Saifuddin Zuhri.

Abu Abbas bin Masruq pernah menengok Abu Al-Fadl Al-Hasyimi yang sedang terbaring sakit di rumahnya. Al-Hasyimi dikenal sebagai orang ‘alim dan wara’ yang miskin. Tanggungannya banyak. Tapi tak ada seorang pun yang tahu dari mana Al-Hasyimi mendapatkan uang untuk menafkahi keluarganya yang banyak anak itu.

Ketika pamit pulang, Abu Abbas membatin: Dari mana orang ini mendapatkan uang untuk menanggung kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya?

Tanpa diduga, tiba-tiba Al-Hasyimi berkata keras. “Hai Abu Abbas, jangan sekali-kali mencemaskan dunia yang hina ini. Sebab Allah selalu melimpahkan karunia-karunia luthf-Nya.

Kisah Al-Hasyimi ini mirip dengan kisah Maryam (Bunda Maria) ketika dikucilkan sewaktu mengandung Nabi Isa. Makanan dan buah-buahan selalu tersedia di kamarnya tanpa ada seorang pun yang tahu dari mana kiriman makanan lezat tersebut. Karunia luthf-Nya akan mendatangi hamba-hambanya yang taat dan berserah diri padaNya.

Menurut seorang sufi, Sulaiman Ad-Darani:
Hati manusia bagaikan bangunan kubah, dikelilingi oleh pintu-pintu yang terkunci rapat.
Pintu apa saja yang dibuka, pasti akan berpengaruh padanya.
Jika kamu ingin membuka pintu hati yang berhubungan dengan alam malakut, maka asahlah ruhanimu; kembangkan sikap wara’ dan berpalinglah dari syahwat dunia.
Jika hal itu kamu lakukan, niscaya pintu-pintu alam malakut akan terbuka.

Umar Ibn Khatab pernah menulis surat kepada para pejabat dan komandan pasukannya di lapangan:

“Perhatikan baik-baik apa yang kamu dengar dari orang-orang yang taat kepada Allah.
Sebab di hati mereka terkuak segala kebenaran. Penglihatan mereka bisa menjangkau alam malakut.

Hati manusia bagaikan bangunan kubah, dikelilingi oleh pintu-pintu yang terkunci rapat.
Pintu apa saja yang dibuka, pasti akan berpengaruh padanya.
Jika kamu ingin membuka pintu hati yang berhubungan dengan alam malakut, maka asahlah ruhanimu; kembangkan sikap wara’ dan berpalinglah dari syahwat dunia.
Jika hal itu kamu lakukan, niscaya pintu-pintu alam malakut akan terbuka.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here