KUBILAI KHAN SANG PENAKLUK SEPARO DUNIA TEWAS DI SEPUTARAN SURABAYA

0
375

lensanaga.com
(Kehancuran Mongol disebabkan kesombonganya, yang pernah menaklukan sang penakluk Eropa dalam perang salib. Persia)

Sebagai peneliti Antropologi yang pernah bekerja dengan newcastle university Sidney, saya setuju dengan novel yg di tulis oleh Makinuddin Samin (penulis novel RANGGALAWE: Sang Penakluk Mongol). Dulu, Makhinudin pernah menulis status berjudul “Kubilai Khan Tewas di Jawa”. Banyak yang tak sepakat dengan tulisan itu, namun tak banyak yang menanggapinya dengan data. Tapi biasa hanya Hujatan dari kelompok STO (Sarjana Tanpa Otak) yang tidak terpelajar kita tahu bahwa data sejarah itu tak tunggal, termasuk kisah tentang serangan Mongol ke Jawa pada dekade terakhir abad ke-13. Ada banyak sumber data, ada banyak perbedaan.
.
Perang Jawa-Mongol yang terjadi pada tahun 1293 disebut dalam tiga sumber, yaitu: Tiongkok (Sejarah Negeri Yuan 1279-1368, catatan Shi Bi, Gao Xing, dan Ike Mese), Bali (Kidung Harsawijaya dan Kidung Ranggalawe), dan Jawa (Prasasti Gunung Butak, Prasasti Kertarajasa 1296, dan Prasasti Kertarajasa 1305). Namun, penulisan sejarah di Indonesia terkait perang abad ke-13 itu lebih banyak menggunakan sumber Tiongkok daripada sumber Bali dan Jawa, misalnya tentang siapa yang memimpin pasukan Mongol dan berapa jumlah kekuatan pasukannya.
.
Sumber Tiongkok, terutama dari Sejarah Negeri Yuan, menyebut bahwa pada bulan kedua 1292 Kaisar Kubilai Khan memerintah Gubernur Fukien untuk mengirimkan Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xing guna memimpin pasukan ke Jawa dengan armada 1.000 kapal. Mereka datang memimpin 20.000 prajurit, perbekalan 40.000 batang perak, 10 lencana harimau, 40 batang emas, 100 lencana perak, 100 gulung sutra, yang akan digunakan sebagai penghargaan kepada para prajurit yang berjasa dalam perang. Sebelum berangkat ke Jawa, mereka bertemu Kubilai Khan dan mendapat penjelasan bahwa mereka diperintah menyerbu Jawa karena utusan khususnya terdahulu, Meng Qi, dilukai wajahnya oleh Raja Singasari Kertanegara.
.
Sejarah Negeri Yuan bercerita bahwa Wijaya (Pijaya) menyatakan takluk kepada Kaisar dan meminta perlindungan dari serangan Jayakatwang (Raja Katong). Pasukan Mongol dikirim dalam tiga gelombang untuk menekuk Daha, kotaraja Kediri. Istana Daha dipertahankan oleh 100.000 prajurit. Jayakatwang kalah dan melarikan diri, 5.000 prajuritnya tewas. Cerita ini berbeda dengan catatan para panglima perang yang memimpin pasukan Mongol tersebut. Misalnya, untuk pasukan Mongol Sejarah Negeri Yuan menyebut jumlahnya 20.000 prajurit, Shi Bi mencatat 5.000 prajurit, Gao Xing mencatat 1.000 prajurit, sedangkan Ike Mese tak menyebut jumlah pasukan. Tentang nasib Jayakatwang setelah perang, Sejarah Negeri Yuan dan Shi Bi menyebut bahwa raja Kediri tersebut ditawan, Gao Xing mencatat ia dibunuh, sedangkan Ike Mese tak mencatat apa pun. Dalam hal rampasan perang yang sempat dibawa pulang ke Tiongkok, Sejarah Negeri Yuan dan Ike Mese menyebut bahwa rampasan perangnya kecil, Shi Bi mencatat rampasan perangnya banyak, sedangkan Gao Xing tidak mencatat adanya rampasan perang. Namun, terkait Wijaya melawan balik pasukan Mongol dan mengusir mereka dari Jawa, baik Sejarah Negeri Yuan maupun para panglima perang mencatat hal yang sama.
.
Sumber Tiongkok ini ada dalam buku karya W.P. Groeneveldt, “Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources”. Groeneveldt sendiri mengkritik Sejarah Negeri Yuan terkait penyerbuan Mongol ke Jawa dengan mengatakan bahwa terdapat banyak kesalahan dan ketidaktepatan informasi dalam catatan di sana, karena itu ia membandingkannya dengan catatan para perwira yang memimpin pasukan Mongol ke Jawa untuk menghukum Kertanegara. Dari sumber Tiongkok saja kita tahu bahwa data sejarah tentang peristiwa tersebut tidak tunggal, apalagi kalau dibandingkan dengan sumber-sumber lainnya. Sekarang mari kita lihat sumber dari Bali.
.
Kidung Harsawijaya menceritakan bahwa pasukan Mongol datang ke Jawa atas permintaan Adipati Sumenep Arya Wiraraja. Kidung Harsawijaya menyebut bahwa Raja Tatar tiba di Canggu. Tahu kalau ada pasukan asing, Jayakatwang melawan. Raja Kediri itu juga marah kepada Harsawijaya (Wijaya) yang bersekutu dengan Mongol; ia merasa dikhianati. Jayakatwang bertempur bersama para sentananya. Saat pertempuran berkecamuk, dia moksa di atas gajah tunggangannya. Rampasan perang dibawa ke Tarik (Majapahit), sehingga Raja Tatar marah dan terjadi perang antara dua pihak yang awalnya bersekutu tersebut. Pasukan Mongol akhirnya kalah dan terusir dari Jawa. Herman Pratikto dalam ulasannya terhadap Kidung Harsawijaya dan Pararaton seperti dikutip dalam buku “Sejarah Tuban” menyebut bahwa jenderal Mongol yang memimpin perang di Jawa hanya dua orang: Che Pi dan Ji’Komisu.
.
Kidung Harsawijaya mengabadikan kemenangan itu dengan kalimat : “Sakwe ing satru wus enti dinon denira Sri Bhupati katekeng Nusantara akwe log lyan tungkul subhakya karuhun tang Bali Tatar Tumasik Sampi Koci lan Gurun, Wadan Tanjung-pura tan open tang Dampo Palembang Makasar prapta sama mawwat sesi ni pura. (Musuh telah dikalahkan oleh Sang Raja hingga Nusantara yang luas juga takluk dan berbakti, terutama Bali, Tatar, Tumasik, Sampi, Koci, dan Gurun; Wandan, Tanjungpura, apalagi Dampo, Palembang, Makasar, datang bersembah seisi negeri).” Kidung Harsawijaya pada bagian VI. 117 itu menyebut Tatar salah satu negeri yang ditaklukkan Jawa.
.
Kisah dalam Kidung Harsawijaya sedikit berbeda dengan Kidung Ranggalawe. Kidung Harsawijaya menyebut bahwa kedatangan pasukan Mongol ke Jawa adalah atas permintaan Adipati Sumenep Arya Wiraraja, sedangkan Kidung Ranggalawe menyebut kedatangan mereka atas ide Ranggalawe. Kidung Harsawijaya menyebut pasukan Pamalayu yang dipimpin Kebo Anabrang datang sebelum perang di Daha, sedangkan Kidung Ranggalawe menyebut pasukan dari Darmasraya itu datang setelah Jayakatwang kalah. Kidung Harsawijaya menyebut Jayakatwang moksa, Kidung Ranggalawe menyebut Jayakatwang ditahan pasukan Tatar. Kidung Harsawijaya menyebut Raja Mongol tewas di Jawa, sedangkan Kidung Ranggalawe mengatakan Raja Tatar pulang ke negerinya. Apakah betul Raja Tatar pulang ke negerinya? Mari kita menelisik sumber dari Jawa.
.
Prasasti Kertarajasa 1296 menggambarkan hebatnya pertempuran antara pasukan Jawa dan Mongol ibarat perang antara Kresna dan Kangsa: “Bhuta nirawacesa tlas hilang pwa ng catru denira, Kangsarajantakawalakrsna-nirbhina, tanpa bheda ta sira lawan sang Krsnawalaputra, umilangaken Sang Prabu Kangsa. (Musuh disapu habis, tak tersisa lagi, hancur lebur jadi abu, sungguh tak berbeda perbuatannya dengan perbuatan Kresna yang membunuh Prabu Kangsa).” Dalam Bhagawata Purana dan Padmapurana, Kangsa digambarkan sebagai kesatria hebat, sedangkan Kresna adalah anak pasangan Dewaki-Basudewa yang diasuh oleh keluarga Nandagopa-Yasoda di Kampung Gokula. Dalam banyak hal Kresna kalah, tapi buktinya ia mampu mengalahkan Kangsa. Itulah sebabnya Prasasti Kertarajasa 1296 mengibaratkan keberhasilan pasukan Majapahit membunuh Kubilai Khan layaknya kemenangan Kresna melawan Prabu Kangsa. Apakah betul “Kangsa” yang dimaksud dalam Prasasti Kertarajasa 1296 adalah Kubilai Khan?
.
Prasasti Kertarajasa 1305 mencatat bahwa “Singgasana Raja Jawa dihiasi kepala Raja Dwipantara”. Model pemenggalan kepala musuh oleh penguasa Jawa sebenarnya bukan hal yang aneh. Abu Zaid Hasan, seorang pengelana Arab, seperti dikutip oleh Groeneveldt, mencatat bahwa pada tahun 916 penguasa Jawa pernah memenggal kepala Raja Khmer karena tak patuh, kepala itu dibersihkan, diawetkan, ditaruh dalam jambangan, lalu dikirimkan kepada raja penggantinya dengan surat berbunyi: “Dirasa tak penting untuk menyimpannya di sini, kami memutuskan untuk mengirimkan kembali kepalanya kepadamu.”
.
Kita masih bisa berdebat tentang kata “Dwipantara”; apakah betul kata itu merujuk pada Tiongkok? Kata Dwipantara digunakan dalam penulisan prasasti, kakawin, babad, dan kidung, di antaranya Prasasti Kertarajasa, Prasasti Gunung Butak, Prasasti Jayanegara II, Prasasti Prabu Tribuwana, Kakawin Negarakertagama, Kidung Harsawijaya, dan Babad Tanah Jawi. Selain menggunakan istilah Dwipantara, Negarakertagama juga menggunakan istilah Nusantara dan Desantara. Berdasarkan pemetaan terhadap kakawin itu, Irawan Djoko Nugroho (seorang filolog dan ahli naskah tua UGM) menyebut Nusantara meliputi wilayah barat dan timur Jawa, Desantara meliputi wilayah Indocina sekarang, sedangkan Dwipantara meliputi Jambudwipa (India), Tiongkok, Karnataka (India Selatan), dan Goa (India Selatan). Jika Dwipantara terdiri dari dua wilayah besar, India dan Tiongkok (sekarang), tak mungkin yang dimaksud Dwipantara dalam Prasasti Kertarajasa 1305 adalah India sekarang, sebab pada abad ke-13 tak ada pasukan dari wilayah itu yang menyerang Jawa, yang ada adalah pasukan dari Tiongkok, pasukan Mongol. Jadi, kepala Raja Dwipantara yang menghiasi singgasana Raja Jawa saat itu tak lain adalah kepala penguasa Mongol, Kubilai Khan. Apakah benar itu kepala raja, bukan kepala panglimanya atau kepala prajurit biasa? Masa orang Jawa tak bisa membedakan antara raja, panglima, dan prajurit biasa? Dua kidung di atas menyebut Raja Tatar, dua prasasti juga menyebut kata raja; bagaimana kita bisa meragukannya? Tak mungkin kepala panglima, sebab tiga panglima perang mereka tak mati di Jawa, mereka berhasil pulang ke Tiongkok dan menulis peristiwa perang Jawa-Mongol yang kemudian menjadi rujukan sejarah arus utama.
.
John Man dalam “Kubilai Khan: Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah” mencatat bahwa merahasiakan kematian seorang kaisar dalam perang adalah bagian dari strategi untuk mengalahkan musuh, hal itu terjadi pada kematian Jenghis Khan dan Mongke Khan. Man juga mencatat bahwa Sang Khan mati pada tahun1294 karena masalah kesehatan yang memburuk. Tapi, mengapa Kubilai Khan tak dimakamkan secara layak? Mayat Khan Agung dibawa berjalan sejauh 1.000 km dan dimakamkan di lereng Burkhan Khaldun, di Pegunungan Khenti. Man beralasan Kubilai Khan dimakamkan secara sederhana karena telah menghabiskan kekayaan untuk operasi militer! Tak masuk akal kiranya seorang penguasa besar tak dimakamkan secara layak karena alasan kekayaan habis oleh operasi militer
.
Irawan Djoko Nugroro dalam “Majapahit: Peradaban Maritim, Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia” menulis bahwa pada tahun 1294 kepala Kubilai Khan dikirim dari Jawa seperti kepala Raja Khmer. Tubuhnya sendiri tiba di istana Negeri Yuan pada 18 Februari 1294. Karena mayat Kubilai Khan yang tak utuh itu, maka pemakamannya dilakukan secara sederhana.

.(red/Ocha)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here