Membangkitkan Kembali Praktik luhur Buddha Dharma Nusantara

0
393

Ternyata ada juga lho komunitas Buddhis yang menggali, melestarikan membangkitkan kembali praktik luhur Buddha Dharma Nusantara. Berikut hasil amat kami:

Waisakan Komunitas Bajrayana Kasogatan Teguhkan Spirit Luhur Buddha Dharma Nusantara

Komunitas Bajrayana Kasogatan adalah salah satu komunitas Buddhis yang tergerak untuk menggali, melestarikan serta membangkitkan kembali praktik luhur Buddha Dharma Nusantara.

Komunitas ini dipelopori mendiang Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, mendiang Romo Giriputra Soemarsono dan mendiang Romo Dharmesvara Oka Diputhera. Bagaimana Buddha Dharma dapat lestari dan menyatu dengan berbagai ragam adat istiadat, tradisi seni budaya serta dapat menjaga nilai-nilai kearifan lokal Nusantara di zaman modern merupakan visi dari komunitas Bajrayana Kasogatan.

Pada perayaan Waisak 2563 BE komunitas ini melakukan berbagai aktivitas keagamaan, serta tradisi seni budaya Nusantara.

Tahun ini ada beberapa komunitas dan pribadi umat yang melaksanakan aktifitas Dharma bersama seperti komunitas seni sakral Tarawangsa Jawa Barat dan komunitas literasi aksara Jogja. Ada beberapa umat Buddha dari Jakarta, Jawa Barat, Kediri, jogjah dan jepara. Ada juga tamu dari Jepang bernama Akko Yokoyama-san.

Meditasi dan Seni sakral tatar Sunda Tarawangsa di Candi Sojiwan Jumat (17/05)

Tarawangsa merupakan seni sakral upacara adat masyarakat Sunda yang dipimpin oleh seorang pemimpin tari yang disebut Saéhu dengan iringan musik gesek untuk memuliakan dan menghadirkan spirit kualitas keberlimpahan dan kemakmuran dari dewi kesuburan Nyai Dewi Sri Pohaci. Dewi Sri sendiri merupakan salah satu manifestasi dari Bhagawati Tara Dewi yang pada jaman dahulu dipuja dan di sakralkan di Candi Kalasan. Menurut kang Ryan seorang penggiat kesenian Tari Tarawangsa, ciri khas Tara wangsa idéntik dengan pemakaian Karémbong atau selendang yang selalu dipakai dalam tarian tersebut. Biasanya ada tujuh macam warna pada Karémbongnya, yang memiliki makna dan filosofis tersendiri.

Jumat sore itu di dalam Candi Sojiwan peserta mendapatkan pengalaman limpahan energi yang luar biasa saat bermeditasi mengikuti uncaran mantra-mantra suci Bajrayana Kasogatan oleh Romo Padma diiring musik ritmik tarawangsa. Selanjutnya tari sakral tarawangsa dipergelarkan mengiring matahari terbenam.

Latihan pernafasan, Meditasi, Sarasehan, Melepas Satwa dan Ritual Waisak Sabtu (18/5)

Sarasehan dilaksanakan di Teguhan, Berbah, Jogja bersama Komunitas Literasi Aksara dibimbing oleh mas Urip Danu Wijaya dilanjutkan dengan ritual di Goa Jepang untuk mendoakan arwah pejuang baik dari pihak Indonesia maupun pihak Jepang, Belanda, dll yang dulu bertempur karena terpaksa bukan karena kesadaran.

Menambah ragam aktifitas praktik Dharma, Latihan Pernafasan Tri Tattwa dan Meditasi yang bersumber dari kitab Sang Hyang Kamahayanikan di Goa Sentono dibimbing langsung oleh Romo Padmawira Sogata dari Jogja. Situs Goa Sentono dikenal sebagai Goa Pertapaan pada Jaman Mataram Kuno. Vibrasi kekhusukan dan kehikmatan terasa saat para umat melakukan meditasi bersama.

Umat Buddha merasakan kegembiraan saat melepas satwa di Larva Bantal. Setelah melepas satwa air (ikan), satu persatu umat melukat untuk membersihkan diri, gemercik aliran sungai di Larva Bantal membawa tersendiri sebagai persiapan ritual Waisaka Puja Komunitas Bajrayana Kasogatan di Candi Abang.

Menurut Romo Padma tujuan ritual puja Waisak dari komunitas Bajrayana adalah menggairahkan dan mebumikan kembali semangat nilai-nilai kearifan lokal khususnya Buddha Jawa Jati Sunda dan berupaya mensakralkan kembali candi-candi kuno peninggalan Siwa Buddha sebagai edukasi kepada masyarakat bahwa Candi bukanlah sekedar bagunan usang tempat Wisata namun juga sebagai tempat Ibadah Umat Buddha yang kaya dengan warisan luhur leluhur Nusantara.

UI

Candi Abang adalah candi yang belum dipugar dan masih berupa sisa reruntuhan bangunan candi seperti gundukan bukit. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9 pada jaman Mataram Kuno. Dinamakan candi abang karena sebagian besar bahan dasar tersusun dari batu bata merah selain ada juga batu putih dan batu andesit (abang dalam bahasa jawa berarti merah). Dipercaya bahwa kawasan candi Abang merupakan tempat pendidikan para Brahmana, Rsi dan Pendeta Siwa Buddha dinasti Syailendra.

Ritual Puja Waisaka Puja Komunitas Kasogatan dipimpin oleh Romo Padmawira Sogata. Gemrincing dentang Suara Genta seolah membawa kita pada keanggunan praktik luhur masa lalu, dimana para leluhur Nusantara begitu menyatu dengan alam saat melakukan puja. Saatnya alat musik Tarawangsa terdengar menyayat hati, Harumnya dupa dan suara kumandang Macapat yang ditembangkan pak Giran Satya Wiraswara dengan iringan siter dan gender mengkidungkan makna Tri Suci di bulan Waisak yaitu lahirnya bodhisatwa Sidharta, tercapainya pencerahan sempurna dan maha parinirwananya Sang Buddha.

Usai ritual Waisaka Puja, dilakukan Tumpengan sebagai wujud syukur dan simbolisasi persembahan mandala kepada Hyang Panca Tathagatha dan membagikan jasa kebaikan kepada semua mahluk di segenap alam semesta. (Siky/DBB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here