SPIRIT RAMADHAN 1440 H (Bag. 26) Kesalehan Sosial

0
126

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Puasa merupakan ibadah yang bersifat privat (pribadi), semata-mata hubungan hamba terhadap Allah.
Hal ini berbeda dengan ibadah-ibadah lain, dimana keterlibatan dan pengetahuan orang lain begitu nyata. Misalnya Shalat, orang lain dapat melihat kita shalat. Sedangkan puasa? Siapa yang tahu jika kita pura-pura puasa?

Namun demikian, puasa sebagai ibadah yang bersifat sangat pribadi, di dalamnya mengandung ajaran-ajaran sosial masyarakat.
Puasa mengantarkan manusia pada kesalehan individu dan kesalehan sosial. Kesalehan individu bersifat ritualistik, sedangkan kesalehan sosial bernuansa sosiologis.

Dalam puasa, Allah menjanjikan banyak pahala bagi kita yang melakukan ibadah. Di sisi lain, Allah pun menyuruh kita untuk memberi sedekah, memberi makan untuk berbuka, dan lain-lain. Hal ini merupakan perintah yang jelas bagi kita agar lebih memerhatikan sosial.
Oleh karena itu, kata iman di dalam Al Qur’an selalu disandingkan dengan kata ‘amalun shalihun(amal saleh).

Pahala tidak hanya dengan rajinnya kita sholat, puasa, dan ibadah ritual lain. Namun pahala merupakan sesuatu yang mendorong ke arah keseimbangan sosial. Karena itu, puasa yang di dalamnya terdapat larangan untuk tidak makan dan minum dapat dimaknai untuk menjauhi ketamakan dan kerakusan.
Menjadi sarana yang melatih diri untuk tidak rakus terhadap apa yang bukan milik kita.

Sungguh indah jika kita berpuasa Ramadhan dan melakukan ibadah-ibadah sunnah lain, serta melakukan kebaikan-kebaikan nyata dalam perilaku sosial kita sebagai dampak dari kesalehan pribadi dan wujud dari kesalehan sosial.

Dalam kalender kehidupan umat Islam, ibadah atau ritualitas puasa merupakan ibadah/ritual yang paling lama memakan waktu, dibandingkan ibadah-ibadah lainnya.

Selama menjalankan ibadah/ritual puasa, manusia Muslim memperoleh beberapa pengalaman moral yang langsung terkait dengan mengasah kepekaan dan kepedulian sosial serta memupuk rasa solidaritas sosial-kemanusiaan.

Sedemikian dalamnya, sehingga Allah SWT menjanjikan ampunan dosa bagi yang melakukannya dengan sungguh-sungguh, dengan memperhitungkan moralitas dari ritual puasa.

Puasa Ramadhan merupakan salah satu pilar (rukun) Islam. Dalam Q.S. 2: 183 disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dari ayat ini dapat diambil beberapa titik simpul, pertama, puasa Ramadhan merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh kaum Muslim.
Kata orang-orang yang beriman dalam al-Qur`an merujuk kepada para pemeluk agama Islam.

Kedua, kewajiban puasa bukan hanya ada dalam Islam. Dalam agama-agama pendahulu Islam, Yahudi dan Nasrani, pun dikenal kewajiban serupa dengan jumlah hari dan beberapa aturan yang berbeda.

Ketiga, tujuan yang hendak dicapai oleh puasa adalah melahirkan pribadi-pribadi yang takwa.

Puasa memang ibadah yang amat istimewa. Hikmah dan kebajikannya bersifat multidimensional, tak hanya moral dan spiritual, tetapi juga sosial. Puasa tak hanya membentuk kesalehan pribadi (individual), tetapi sekaligus juga kesalehan sosial.

Puasa memiliki dua semangat yang sangat baik dilihat dari perspektif pendidikan akhlak. Pertama, semangat pencegahan (kaffun wa tarkun) dari hal-hal yang destruktif (al-muhlikat). Semangat yang pertama ini menjadi basis kesalehan individual.

Lalu, kedua, semangat pengembangan alias motivasi dan dukungan (hatstsun wa `amalun) terhadap hal-hal yang memuliakan, konstruktif, atau dalam bahasa Imam Ghazali, dukungan terhadap hal-hal yang menyelamatkan manuisa (hatstsun ila al-munjiyat).

Semangat yang kedua ini menjadi pangkal kepedulian sosial yang pada gilirannya membentuk kesalehan sosial.

Dimensi sosial dalam ibadah puasa sangat kentara ditilik dari beberapa hal ini.
Pertama, orang yang puasa harus menahan diri dari rasa haus dan lapar.

Ini merupakan latihan agar kita mampu mengendalikan diri dari dorongan syahwat yang berpusat di perut (syahwat al-bathn). Ia juga merupakan sarana agar kita bisa berempati kepada orang-orang miskin.

Orang yang tak pernah lapar, ia tidak bisa berempati kepada orang lain. Mungkin itu sebabnya, ketika Malaikat Jibril AS menawarkan kepada Rasulullah SAW kekayaan melimpah (bukit emas), beliau menolaknya, seraya bekata: “Biarlah aku kenyang sehari dan lapar sehari.”

Penting diketahui, lapar itu ada dua macam, yaitu lapar biologis dan lapar psikologis. Lapar biologis lekas sembuh dengan makan.
Lapar psikologis, seperti lapar kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan, tak gampang disembuhkan.

Puasa menyembuhkan kedua macam lapar itu sehingga kita bisa terbebas dari penyakit vested interest, untuk selanjutnya lebih peduli dan sadar akan kepentingan orang lain (sosial).

Kedua, orang yang puasa disuruh banyak bederma. Nabi SAW menyebut, bulan puasa sebagai Syahr al-Muwasah atau bulan kepedulian sosial.
Rasulullah SAW sendiri merupakan orang yang paling banyak bederma, dan dalam bulan Ramadhan, beliau lebih kencang lagi bederma, melebihi angin barat. (HR Hakim dari Aisyah).

Ketiga, pada penghujung puasa, kita disuruh mengeluarkan zakat fitrah, di luar zakat mal, tentu saja. Kewajiban ini seakan melengkapi dimensi sosial dari ibadah puasa.
Karena, tanpa zakat, pahala puasa kita belum sampai kepada Allah. Ia masih bergantung dan berputar-putar di atas langit.

Di luar semua itu, puasa melatih dan mendidik kita agar menjadi manusia bermental giver (pemberi), bukan taker (peminta-minta). Ungkapan take and give yang populer di masyarakat kita, tentu tidak sejalan dengan spirit puasa. Ungkapan itu semestinya berbunyi, giving and receiving.

Orang puasa sejatinya sedang meneladani Allah SWT, sejalan dengan doktrin, “Takhallaqu bi akhlaq Allah.” Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Nabi Muhammad SAW juga demikian.

Maka, orang yang berpuasa diminta meneruskan kasih sayang Allah dan Rasul itu kepada umat manusia dengan cara berbuat baik dan berbagi kegembiraan.
Dengan begitu, puasa membuat kita cerdas, baik secara moral, spiritual, maupun sosial, dan inilah karakter orang takwa. Wallahu a`lam.-

#kaP
Penggagas / Ketum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusanatara).red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here