Gizi Baik Dimulai dari Rumah: Tim Pengabdian Polinela dan Unila bersama KWT Melati Jaya 10 Gencarkan Edukasi Protein Hewani

Lensanaga.id — Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya asupan gizi seimbang, khususnya protein hewani, Tim Pengabdian dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela) dan Universitas Lampung (Unila) bersinergi bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati Jaya 10 untuk menggelar kegiatan penyuluhan bertajuk “Pentingnya Konsumsi Protein Hewani.” Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan utama dari kegiatan besar “Pemberdayaan  KWT  Melati  Jaya  melalui  Pengolahan  Hati  Ayam  sebagai  Camilan  Kaya  Protein  serta Peluang Usaha Frozen Food Praktis dan Ekonomis” terdiri dari kegiatan : 1) Penyuluhan pentingnya konsumsi protein hewani; 2) Demonstrasi pengolahan sosis hati ayam sebagai camilan tinggi protein; 3) Edukasi dan demonstrasi pengemasan pangan dengan metode frozen food; 4) Peningkatan keterampilan kewirausahaan. Kegiatan Program Pengabdian kepada Masyarakat ini didanai oleh DPPM dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2025, Jumat (1/8/2025).

Kegiatan pengabdian “Penyuluhan Pentingnya Konsumsi Protein Hewani” dilaksanakan pada tanggal 31 Juli 2025 oleh Nathasa Khalida Dalimunthe, M.Gz. dari D2 Pengolahan Patiseri, Tiara Kurnia Khoerunnisa, ST, M.TP. dari D3 Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi Pertanian, Politeknik Negeri Lampung serta bekerjasama dengan lintas perguruan tinggi yaitu Nindytia Puspitasari Dalimunthe, S.E., M.Sc. dari Program studi S1 Manajamen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Lampung dan mahasiswa.

Kegiatan yang digelar di Masjid Al-Fitrah, Kelurahan Sukamenenti Baru, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung yang dihadiri oleh Lurah, Kaling, Kamtibmas, dan para ibu-ibu KWT Melati Jaya 10, ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya ibu-ibu anggota KWT, tentang pentingnya protein hewani seperti telur, ikan, daging, hati ayam, dan susu dalam menu harian keluarga khususnya pada anak. Produk hewani seperti daging, ayam, telur, susu, dan ikan kaya akan nutrisi penting, termasuk protein, asam amino esensial, serta berbagai mikronutrien yang jarang ditemukan dalam makanan berbasis tumbuhan.

Dalam kegiatan ini, Nathasa Khalida Dalimunthe yang sekaligus Ahli Gizi dari Polinela melakukan edukasi pentingnya konsumsi pangan hewani untuk mencegah dan mengatasi masalah gizi pada anak. Banyak keluarga yang belum optimal memanfaatkan sumber protein hewani karena keterbatasan pengetahuan atau anggapan bahwa harganya mahal. Padahal, dengan pengelolaan tepat, bahan ini bisa jadi investasi kesehatan jangka panjang,” jelas Nathasa, salah satu anggota tim dari Polinela. Hal tesebut juga selaras dengan hasil penelitian ketua pengusul  bahwa lebih dari sebagian anak baduta di Indonesia pada setiap kali makannya tidak mengonsumsi protein hewani. Kontribusi terbesar dari asupan protein anak baduta yaitu pada produk susu dan turunannya, yang mana produk tersebut merupakan UPF (Ultra Processed Food).

Antusias dari para ibu terhadap kegiatan penyuluhan sangat baik ditandai dengan diksusi yang berjalan dengan aktif dan lancar. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para ibu saat materi berlangsung meliputi permasalahan gizi yang ada di Kelurahan Sukamenanti Baru, pernyataan mengenai jika anak mengonsumsi telur setiap hari akan menimbulkan bisul, kenapa harus konsumsi protein hewani, perbedaan protein hewani dan nabati. Adapun ibu yang menanyakan kebenaran jika anak mengonsumsi telur akan menyebabkan bisul. Namun faktanya, telur justru kaya protein, kolin, dan vitamin D yang penting untuk otak dan tulang anak.  Narasumber sangat menekankan untuk tidak ragu memberikan telur dan jenis protein hewani lainnya kepada anak-anak, kecuali anak tersebut menimbulkan reaksi alergi letika mengonsumsi protein hewani tersebut.

Para ibu juga menanyakan alasan kenapa harus memilih protein hewani dibandingkan nabati. Ketua pengusul mengatakan, protein hewani kaya akan zat gizi mikro seperti vitamin B12, zat besi heme yang lebih mudah diserap tubuh, dan adanya omega-3 pada ikan untuk perkembangan otak. Sementara itu, protein nabati, yang diperoleh dari kacang-kacangan, biji-bijian, tahu, tempe, dan sayuran, umumnya memiliki profil asam amino yang kurang lengkap dan tingkat penyerapan ditubuh rendah. Tim pengabdian juga merekomendasikan protein hewani yang murah, terjangkau, dan mudah didapat seperti hati ayam atau sapi. Hati ayam merupakan produk sampingan dari ayam yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber zat besi, vitamin A, dan protein tinggi. Zat gizi tersebut dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak dalam mencegah masalah gizi kurang/buruk dan stunting. Namun, anak-anak cenderung tidak suka jika mengonsumsi langsung hati ayam, sehingga perlu adanya inovasi bentuk yang sesuai dengan selera anak-anak seperti menjadi olahan lain yang lebih menarik.

Ketua KWT Melati Jaya, Nurbaiti mengatakan “Kami sangat senang dan mendukung kuat kegiatan ini karena dapat meningkatkan wawasan, sikap, dan praktik ibu dalam mengasuh anaknya. Kami juga mengajak anggota untuk memanfaatkan pekarangan dengan beternak ayam atau budidaya lele, sehingga hasilnya bisa dikonsumsi sendiri atau dijual”. Melalui kolaborasi ini, Tim Pengabdian Polinela dan Unila berharap edukasi tentang gizi dan inovasi pangan terus berlanjut agar masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, menjadi agen perubahan dalam peningkatan kualitas hidup keluarga dari rumah sendiri. Pada kunjungan selanjutnya tim pengabdian akan mengajarkan para ibu KWT untuk dapat mengolah hati ayam menjadi sosis homemade yang sehat dan tanpa bahan pengawet, pewarna, dan pengenyal. (Rilis)

Loading

Redaksi
Author: Redaksi

Related posts

Leave a Comment